Kat. Yap, seperti yang sudah aku sampaikan di postingan sebelumnya bahwa ada kemungkinan kalo Kat interested in me. Kemungkinan nih jangan pada mikir aku geer ya.

Moving on…

Akhirnya aku samperin aja kelas 10-5 dan jika kalian berfikir aku adalah cowo yang awalnya baik dan sekarang berubah menjadi nakal, tentu saja aku ga akan ngalami kendala buat ngedekatin cewek. WRONG. Aku begitu gugup nya hanya untuk say Hi, aku bahkan mengalihkan misi ku untuk mendekati nya. Instead, aku hanya ke kelas itu untuk chatting dengan teman-teman ku dari SMP. Kebetulan saja ada lebih dari 5 orang sobat SMP ku yang berada di kelas itu. Terkadang aku juga merasa cemburu kenapa aku tidak ditempatkan di kelas itu. Well, life is always unfair so it’s okay i guess. Setidaknya kami masih bertetangga.

Memang aku tidak punya nyalin untuk memulai percakapan dengan Kat, bahkan menyapa nya saja tidak. Aku hanya mecuri perhatian, it’s not a crime isn’t it? Terkadang ketika dia melihat kembali ke arahku aku akan segera memalingkan pandangan ku ke arah lain. Entah apa yang aku pikirkan, kenapa harus berpaling? Apakah begitu sulit hanya melihat kedua bola mata yang indah itu? Mungkin sedikit reka adegan akan membuat semuanya jelas. Here we go

D for Dwiki, K for Kat….

D : *Menatap wajah indah Kat….Sambil berusaha move on dari Alison*

K: *Membalas menatap ku*

D: *Tetap menatap mata Kat*

K: *Kat terlihat terkejut dan gugup*

D:*Tetap menatap sambil berkhayal……bukan hayalan negatif*

K:*Tidak tahan dengan tatapan ku, Kat berjalan menghampiri*

D: *Terkejut dan tersadar dari lamunan ku*

K: *penuh emosi*

D: *Mumbling….I have a bad feeling about this*

K: *SMASH, WHAM, BLETAK, DUARR*

“Ngapain ngeliatin kaya gitu!? Mikir jorok ya! Gatel banget sih”

FIN…..

Ya, mungkin itu adalah salah satu reka adegan yang aku hindari. Walaupun mungkin sedikit lebay tapi aku selalu takut ketika melihat seorang wanita cantik, memandanginya dan ketika dia membalas pasti aku memalingkan pandanganku. Mungkin juga yang aku takutkan adalah ketidak nyamanan, karena tentu saja sangat tidak nyaman ketika ada orang yang tidak dikenal hanya menatap ke arah kita penuh dengan kekaguman. Kinda perverted if you asked me.

Well then, dengan penuh tekad aku mencoba lagi keesokan harinya. Berusaha untuk setidaknya mengajak dia ngobrol atau mungkin sampai meminta nomor handphone nya, which is not an easy task.

Bell istirahat berbunyi dan langsung saja aku beranjak ke kelas sebelah. Beberapa temanku mengajak ku untuk nongkrong di kantin tapi aku menolak ajakan mereka dengan alasan aku ingin diskusi dengan teman SMP ku di kelas 10-5. I should mention though, sebut saja namanya Al, siswa berbulu (WHAT?!) satu ini memiliki kepintaran seperti penemu ALJABAR yang terkemuka itu. They had things in common though, BULU. Dengan alasan itu tentu saja teman-temanku dari 10-6 tidak akan mencurigai apapun.

Aku berjalan ke pintu masuk kelas 10-5 dan entah kenapa mereka sangat tenang hari ini. Aku mengintip ke dalam, tidak ada guru di depan maupun di belakang. Pintu kelas mereka juga terbuka lebar, apa mereka begitu keen untuk belajar? Aneh, karena biasanya kelas ini juga kacau balau, bahkan pada saat jam pelajaran. Kembali aku cek jam dan lingkungan sekitar, dengan muka penuh pertanyaan aku melihat sekitarku. Yap, tidak ada guru, emang sudah waktunya istirahat dan kesimpulan nya adalah mereka hanya kebetulan sedang tidak mood untuk istirahat dan lebih memilih untuk belajar. Bahkan Kevin, Conan, Aziz dan Jerry! Tidak seperti biasanya. Aku sudah mengenal Kevin, Conan dan Aziz sejak SMP dan aku yakin mereka bukan tipe orang yang mau menghabiskan waktu mereka untuk belajar. Jerry, ya aku baru mengenalnya waktu SMA ini tapi aku juga yakin dia bukan murid yang rajin (walaupun berkacamata). Wait, bahkan Al! Dia sudah genius dan tidak biasanya aku melihat dia belajar pada jam istirahat. Ah sudahlah aku tidak bisa membatalkan misiku lagi, waktunya masuk!

Baru saja aku mengayunkan kaki kanan ku ke kelas, serentak beberapa murid 10-5 menatapku seolah – olah aku mengambil uang jajan mereka. Kevin seperti berusaha menyampaikan sesuatu, kenapa dia berbisik? Tidak ada guru di dalam, apa susahnya mengeluarkan suara? Dengan suara lantang aku berbiacara, “Wuih, pada ngerjain PR ya? Pada ngapain sih vin?”. Serentak Kevin, Conan dan Aziz melakukan gaya ‘facepalm’. Dengan wajah heran aku melihat mereka, seperti boyband saja bisa serentak begitu, pikirku. Baru saja aku mau mengeluarkan suara, tiba-tiba….

“Ehm..”

Suara apa itu? Jangan-jangan ada guru di belakangku. Dapat aku rasakan asap rokok yang sangat menyengat, urgh….Aku tidak pernah menyukai asap rokok. Wait, cuma ada satu guru yang berani merokok saat mengajar, the one and only Pak Tom. Perlahan aku membalikkan badan ku dan perlahan juga asap rokok tadi menipis. Seperti tirai di bioskop yang perlahan terbuka untuk menampilkan layar di belakangnya, perbedaannya kau tidak akan pernah senang jika melihat layar yang satu ini. Dugaan ku benar, Pak Tom melihat ku sinis. Dia memadamkan rokoknya dan membuangnya ke belakang dengan gaya Iron Man ketika menembakkan roket kecil ke arah tank dan berjalan perlahan berlawanan arah. Though i should mention that tong sampah ada persis di sebelah kirinya. What a creep.

“Ngapain? Bukan siswa kelas ini kan?” Suara tegasnya sangat mendebarkan jantungku, ditambah lagi penampilan seramnya. Berbadan tegap, kulit hitam gelap (I AM NOT RACIST) dan rambut ikalnya sangat menyeramkan kecuali kacamata Peter Griffin – Family Guy favoritnya, aku masih tidak mengerti kenapa dia memilih kacamata itu.

“Bukan P…p…..pak, saya m..mmm….au berjumpa dengan teman saya Pak”. Stammering! Mengingatkan ku dengan King George the Sixth dari film The King’s Speech. Aku bahkan tidak berani untuk berbicara tegap dan menatap kacamata Peter Griffin itu.

“Apa yang kau lihat di bawah sana? Lihat sini!” Intonasi meninggi, mentalku menciut. Perlahan aku berusaha menatap nya. Belum lagi pandanganku sampai ke dua bola mata menyeramkan itu dia membentak ku

“Kalau bukan siswa kelas ini, KELUAR!”

Langsung saja aku meninggalkan tempat terkutuk itu, beberapa siswa kelas 10-5 tertawa bahkan Kat dan tentunya mereka teman-teman SMP ku yang senang melihat penderitaan orang lain. Ketika keluar, aku mendengar Pak Tom membentak mereka yang tertawa dan kembali mengerjakan tugas mereka.

Hah, aku lelah berlari. Entah kenapa aku berlari padahal sangat tipis kemungkinan nya Pak Tom akan mengejarku. Bodoh! Tapi tunggu dulu, ini masih awal semester kan? Apa yang tadi itu ulangan harian? Kenapa begitu cepat? Ah sudahlah, intinya Pak Tom adalah salah satu guru yang harus diwaspadai. Don’t mess with him. Lagi-lagi mission failed! Apakah masih ada hari esok? Jika ada i better not waste it. Wait! Kenapa harus menunggu besok? Istirahat kedua sebelum pulang! Masih ada kesempatan. Better not fail again.

Tinggal beberapa jam lagi sebelum bel istirahat berbunyi…

Urgh pelajaran Sejarah. Don’t get me wrong, bukannya tidak menghargai jasa para pahlawan atau perjuangan mereka atau semacamnya tapi pelajaran yang ‘menarik’ ini dibawakan oleh guru yang bahkan tidak memiliki semangat hidup dalam mengajar. Lantas bagaimana aku, kami bisa menghargai jasa para pahlawan terlebih lagi menyukai pelajaran sejarah? Beberapa teman sekelas ku bahkan mendengkur pada saat Ibu Maura sedang menjelaskan apa itu arti VOC. Damn you Belanda, no offense bagi pembaca yang berasal dari Belanda (Kalo ada).

Waktu terasa sangat lama berlalu, mungkin kalimat time is relative itu memang benar. Kalau saja ini pelajaran bahasa inggris mungkin tanpa terasa satu jam sudah berlalu atau mungkin waktunya olahraga, bahkan dua jam pun terasa seperti sepuluh detik. Tapi tidak dengan sejarah, matematika, fisika, urgh you name it guys.

Setelah berjuang melawan kantuk dan senyum palsu yang menggambarkan aku tertarik dengan VOC dan kapal-kapal besar para penjajah akhirnya bel istirahat berbunyi. Tanpa menunggu Ibu Maura keluar aku sudah bersiap-siap berdiri di depan pintu masuk kelasku. Mungkin Ibu Maura berpikir “Wah, betapa santunnya murid ku yang satu ini. Dia bahkan menuntun ku keluar kelas”. Ya ya yaaa, have it your way mam! Jalan lah sedikit lebih cepat dan mungkin lain waktu aku akan mengantar mu ke kantor guru! Ehm…A bit rude?

Next…

Waktu yang ditunggu-tunggu, step pertama Ibu Maura menginjakkan kakinya keluar kelas aku langsung berlari kecil ke kelas sebelah. Aku melihat Kat sedang menggambar dan menulis sesuatu di white board. Sepertinya mereka sedang bermain games atau semacamnya dan mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengajak Kat berbicara, bahkan meminta nomornya. Ah bodoh amat, begitu kata Sule (Kenapa bisa jadi Sule?).

Aku masuk ke kelas 10-5 bagaikan tamu yang tak diundang dan langsung duduk di meja Kevin, Conan, Aziz dan Jerry (Terlau panjang, kita singkat menjadi JACOK tanpa n disela-sela nya. Hehee). Sedikit berbisik kepada mereka “Kalian sedang apa? Apa Kat sulit diajak ngobrol pada saat seperti ini?” beberapa member JACOK mengabaikan ku, hanya Jerry yang baru aku kenal yang merespon “Coba saja dwik tapi kau harus siapkan mental mu, dia mungkin akan merepet walaupun memang setiap hari dia begitu tapi ini game kesukaan nya, tentu dia tidak ingin diganggu.” Seperti anak SD saja, mereka bermain game yang menyebutkan nama-nama artis, buah-buahan, nama klub sepak bola, movies, songs, and so on. Yang anehnya kenapa harus di white board? Bukannya dulu kita memainkan game ini di kertas? Ah sudah lah, tidak ada waktu lagi karena istirahat hanya 15 menit dan 6 menit pertama sudah berlalu. Mereka bahkan berdebat hanya karena ada yang protes jati diri sebuah tomat. Apakah mereka sayuran atau buah-buahan? Tentu saja mereka itu buah! Kau tidak menyebut nya dengan sesayur tomat tapi seBUAH tomat!

Akhirnya Kat duduk di bangkunya tapi masih antusias untuk bermain. Tanpa berpikir panjang aku menghampiri nya, aku menyusun strategi berupa basa-basi sebelum ke direct problem, nomor handphone nya.

Kat masih berdebat tentang tomat dan aku menghampiri bangkunya.

“Kau yakin tomat itu sayuran?” aku berusaha mencuri perhatiannya. Kat terlihat sedikit terkejut mungkin dia tidak menyadari kalau aku sudah hampir beberapa menit duduk di sebelahnya.

“Tentu tidak.” Jawabnya ketus, “Loh? Lantas kenapa kalian berdebat begini?” Bahkan Al dan JACOK sudah pergi keluar kelas tanpa memberi tahuku. Mungkin mereka sudah mengerti alasan aku datang ke kelas ini. Tinggal Amy, teman dekat Kat dan beberapa cewek kelas 10-5 yang aku belum kenal yang masih berdebat.

“Ntahlah, aku memang suka melantang kan suaraku untuk hal bodoh seperti ini.” What a unique girl, memang benar Kat suka mengomel. Dengan wajah ‘poker face’ aku tidak tahu apa yang akan aku sampaikan berikutnya.

“Gimana rasanya?” Kat bertanya sambil tersenyum.

“Maksud mu?” Aku tidak mengerti, well, setidaknya perhatian nya tertuju padaku sekarang.

“Gimana rasanya dibentak sama Pak Tom?” Kat seems to enjoying herself, tak kusangka suara tawa Kat sangat merdu di kupingku.

“Haha, sudah kuduga kau akan menanyakan itu. Seperti menaiki roller coaster, mengguncang isi perutku!” Dengan wajah konyol aku menjawab pertanyaan Kat. Dia tertawa lebih keras dari sebelumnya, thank God dia sudah beralih ke percakapan kami dan meninggalkan perdebatan 10 menit mereka mengenai jati diri tomat. Silly girls.

Lagi-lagi relativitas waktu menggangguku, aku bahkan tidak sadar bel masuk sudah berbunyi 5 menit sebelumnya. Siswa 10-5 berlari masuk ke kelas dan itu artinya ada guru yang akan mengajar. Aku langsung berdiri dan pamit dengan Kat (Pamit? Watdehel).

Nomor handphone nya? Haha tenang saja, Kat bahkan menginput pin BBM nya sendiri ke handphone ku. The best day of my life!

Aku bergegas keluar kelas dengan perasaan bangga. Tidak sabar rasanya untuk chatting dengan Kat, ada sesuatu dari dirinya yang membuat ku penasaran. Semoga saja semua berjalan dengan baik nanti malam. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang terasa berbeda. Apa aku meninggalkan sesuatu di kelas 10-5? Aku cek setiap kantong di celana dan bajuku. Oh tidak, handphone ku tertinggal di kelas 10-5! Aku meninggalkan kelas Kat tanpa sadar bahwa Kat masih menginput kan pin BBM nya di handphone ku! Betapa cerobohnya. Aku harus mengambil handphone ku nanti sepulah sekolah, semoga saja Kat tidak megotak-atik isi handphoneku. Tenang, history sudah aku bersihkan. Heheeee

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s