A Bahasa Indonesia Post

21.55…..

Berusaha mencurahkan isi kepalaku kedalam sebuah tulisan, ketikan. Entah kenapa banyak orang yang mengatakan ‘tulis’ dalam sebuah blog atau mungkin catatan dalam laptop mereka. Nevertheless, baru-baru ini aku sangat ingin menjadi penulis walaupun beberapa tahun sebelumnya aku sudah memiliki minat yang sama. Semua nya bermula dari sebuah film, kalau tidak salah judulnya ‘True Story’.


Mungkin aku akan bercerita sedikit tentang apa yang aku pikirkan beberapa waktu belakangan ini. Pernahkah kalian merasa cemburu dengan apa yang orang lain dapatkan tanpa memberikan effort lebih untuk mendapatkannya? Sebut saja seorang mahasiswa, dengan tingkat kepintaran, kerajinan, tampang, you name it, yang memang tidak lebih dari diri Anda. Tetapi entah kenapa Tuhan memudahkan segalanya bagi dia untuk meraih apa yang dia inginkan? Apakah Tuhan lebih menyayanginya? Apakah Tuhan menganggap dia special?


Beberapa ulama, orang bijak, orang tuaku, relatives, mengatakan bahwa apa yang aku sebutkan sebelumnya itu salah. Tuhan tidak menganggap siapapun special, melainkan semua umatnya adalah umat yang special. Tuhan juga tidak lebih menyayanginya, melainkan dia menyayangi semua ciptaan nya, termasuk manusia. Lantas apa alasan Tuhan? Apa yang membedakan kami? Satu hal yang aku yakini adalah Tuhan akan menjadikan aku lebih dari mereka yang aku anggap tidak memberikan effort lebih untuk mendapatkan sesuatu. Yakin? Mungkin tidak 100%, i have my doubts. Bagaimana jika sebaliknya? Yang paling aku takutkan adalah mengecewakan orang-orang yang selama ini mendukungku, orang tua, saudara, keluarga, mereka yang mencoba menghiburku ketika aku sedih, mereka yang menanyakan kabarku. Tidak dapat aku bayangkan, bahkan jika memang yang terjadi adalah sebaliknya, aku tidak dapat menggapai kesuksesan, aku tidak akan sanggup menatap mata mereka.

Dibalik semua kejenuhan yang telah aku ceritakan, terkadang justru aku merasa bersyukur. Bersyukur karena masih dapat berjuang dengan begitu banyak bantuan dari keluargaku. Mencari pekrjaan bukan lah hal yang mudah, aku sudah berjuang selama 5 bulan tanpa hasil yang dapat aku banggakan. Lebih dari 10 interviews, 80 job applications, dan 5 job fairs telah aku lalui. Kembali ke pertanyaan sebelumnya, apakah effort yang aku berikan selama ini tidak cukup untuk membuat Tuhan yakin bahwa aku benar-benar telah berusaha maksimal? Bahkan sangat maksimal! Setiap upaya pencarian kerja yang aku lakukan aku lakukan dengan ikhlas, determined, berharap aku dapat memberikan kabar baik kepada mereka bahwa aku diterima dan dapat bekerja beberapa hari lagi. Melihat senyuman mereka, mendengar ucapan ‘Alhamdulillah, akhirnya diterima juga!’ atau ‘Alhamdulillah, tidak sia-sia sudah merantau sampai ke Bogor!’ atau ‘Alhamdulillah, sudah punya penghasilan sendiri sekarang. Ingat jangan boros ya.’ Terdengar sangat indah, hanya bisa mengkhayal untuk saat ini. Ya, tentu saja SAAT INI. Aku tidak mungkin ingin menganggur selamanya kan?


Setelah shalat isya tadi jam 8 malam aku berbaring di atas sajadah. Kembali berkhayal mengenai apa yang sudah aku lakukan dan apa yang akan terjadi jika aku melakukan hal yang sebaliknya. Sambil berbaring, aku menatap langit-langit kamar. Hal pertama yang aku pikirkan adalah masa depanku. Apa yang akan terjadi? Apakah aku berhasil meraih kehidupan yang selalu aku impikan? Mulai dari memiliki pekerjaan yang sehat, keluarga yang ceria, memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan dengan gap usia 3 tahun (aku bahkan sudah memikirkan nama mereka), memiliki rumah sederhana dengan halaman yang luas. Semua itu aku bayangkan selama hampir setengah jam, aku bahkan berkhayal memiliki usaha ku sendiri sehingga jika nanti aku sudah tidak bekerja lagi, aku tetap dapat menafkahi keluarga kecilku. Selanjutnya aku berkhayal tentang kehidupan ku yang dulu. Terutama ketika masih sekolah dan kuliah.


SMAN 2 Medan, momen yang sangat indah. Mereka benar, momen SMA adalah momen yang paling dirindukan. Tidak hanya dengan suka namun juga duka yang terjadi. Aku sangat ingat bagaimana diriku yang dulu ketika masih duduk di bangku kelas 10. 10-6, that’s my class. Jujur saja aku lelah menjadi anak yang taat dengan guru dan selalu mengerjakan tugas yang mereka berikan. Bagaikan bunga yang terlambat mekar, aku memutuskan untuk berubah. Bukan ke arah yang baik, melainkan ke arah sebaliknya. Selama 9 tahun aku sudah menjadi apa yang orang tuaku inginkan, mulai dari meraih peringkat 10 besar (walaupun pencapaian terbaikku hanya peringkat 6) sampai mengikuti les tambahan.


Terkadang aku berfikir, apakah masa puber ku terlambat? Apakah wajar bagi anak berumur 15 tahun yang dulunya patuh tiba-tiba berubah menjadi pemberontak? Mungkin kalian bisa menilainya, tapi jujur saja jika aku dapat berjumpa dengan diriku yang berumur 15 tahun waktu itu aku tidak akan mengenalinya. Walaupun faktanya kami adalah orang yang sama. Setiap kali aku berjalan dengan ‘geng’ kelas ku waktu itu, rasanya kami unstopable, like nothing impossible. Which is a good thing, tapi maksud unstopable adalah melanggar peraturan. Kami, bahkan aku sendiri yakin tidak masalah jika hanya bolos beberapa jam saja. Guru-guru pasti pernah muda juga, tentunya mereka toleran terhadap hal seperti ini kan?


Sering kali aku bolos hanya untuk duduk di kantin (kebetulan kelas ku dekat dengan kantin), bercerita dengan teman, mencoba mendapatkan pacar baru, mencoba pura-pura lupa bayar makanan yang telah ku pesan, dan banyak hal sepele lainnya yang aku lakukan hanya untuk bolos jam pelajaran. Hal sepele lainnya adalah kembali bermain petak umpet, atau hide and seek. Sulit dipercaya aku kembali ke masa SD ketika berlari, bersembunyi dengan teman-teman sekelas ku. Hah, sekarang aku bahkan lebih bernostalgia dari lamunan ku tadi.


Btw, i did mentioned about pacar baru. Walaupun sebenarnya hatiku sudah menjadi milik seorang wanita yang aku kagumi sejak SMP (sedikit lebay). Baiklah, aku akan bercerita tentang asmara sekarang. Aneh rasanya mengetik dan membaca ulang kata ‘asmara’, apakah ‘percintaan’ lebih baik? Ah, entah lah aku juga bukan seorang penulis yang expert.


Moving on…….


Tentu aku tidak akan menyebutkan namanya, kita gunakan alias saja. Let’s call her………..Alison. Kenapa Alison? Just shut up and read my story, will ya?


Ehm…


Kita mulai dari posisi kelasnya yaitu 10-7. Yap, bersebelahan dengan kelas ku. Sering kali aku melihat dia melintasi ruangan kelasku, biasanya dia berjalan dengan teman-teman nya dari kantin. Sering juga aku melihat dia berjalan sendiri, beberapa temanku bahkan menegurnya. Menegur atau mencoba menggoda, aku bahkan tidak tahu perbedaannya. Lagi-lagi terasa aneh membaca menggoda, ah sudahlah.


Sering kali aku bertekad untuk menyapa nya lebih dulu, just say hi you fu*king coward! Itu yang selalu aku ucapkan ke dirku sendiri. Walaupun yang terjadi justru sebaliknya, aku menatap Alison penuh kagum dan ketika dia melihatku dia hanya tersenyum (senyuman jijik). Setelah dia menghilang dari pandanganku, kembali aku berkomitmen ‘kalau dia lewat lagi aku harus say hi’. Begitu seterusnya tidak ada perkembangan, hingga akhirnya aku mendengar kabar terburuk yang pernah aku dengar. Yap, she is single NO MORE.
Rasanya hampa, ya….hidup ini menjadi hampa. Sama sepertinya ketika malaikat maut membisikkan ke telingamu bahwa besok jam 2 siang aku akan mencabut nyawamu. Aku yakin kau tidak akan bergairah untuk melakukan apa-apa keesokan harinya. Hanya berdiam diri di kamar, memikirkan semua dosa yang telah kau perbuat, bahkan berdoa meminta ampun kepada Tuhan. Yap, seperti itulah yang terjadi padaku waktu itu. Aku ingat setiap kali ingin pergi ke sekolah hanya untuk dapat melihat senyuman Alison. Wanita berjilbab tercantik yang pernah aku jumpai, tapi apa artinya hanya bisa melihat tanpa memiliki kesempatan untuk memilikinya? Aku tidak lagi merasa eager untuk ke sekolah. Life full of unfairness. Namun tetap saja jika kami berpapasan dia akan tersenyum atau menyapaku dengan ramahnya. Dan hal ini membuat ku curiga dan berfikir, apakah dia tidak bahagia dengan pacar barunya? Oh of course! We need a name untuk pacar barunya. Sebut saja nama nya….Don…Pffttt…Never mind.


Don dan Alison, mereka selalu membuat ku bertanya-tanya. Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk mendekatkan diri dengan Alison tanpa harus bermasalah dengan Don? Oh ya, Don adalah teman SD ku, yap aku ingat dulu kami bermain kartu Digimon sepulang sekolah menunggu jemputan kami masing-masing. Terkadang aku berusaha curang ketika kartu ku tinggal sebatang kara. Aku ingat bagaimana ekspresi Don yang tidak mau tau penderitaanku, yang terpenting adalah aku harus menyerahkan kartu ku saat aku kalah. Namun kelihatannya hanya aku yang mengingat kenangan itu. Pasti kalian berfikir dari mana aku mengetahui nya? Jawaban nya ada dua, mungkin aku memang bisa membaca ekspresi dan apa yang dipikirkan seseorang ketika bertemu dengan ku ATAU aku hanya seorang siswa bodoh dan egois yang selalu menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang aku pikirkan. Dengan sedikit merasa kesal karena Don sepertinya lupa dengan ku ditambah lagi dia merebut Alison dariku, aku mencoba mencari cara agar dapat mendekati Alison.


A distraction!


Apakah kalian pernah merasakan sesuatu yang kalian yakini terjadi tapi kalian tidak yakin jika hal itu benar-benar terjadi? Aku rasa sebuah ingatan dapat tercampur dengan emosi kita hingga kita meyakini nya walaupun belum tentu ingatan itu terjadi. A little bit confusing? Okay, aku sangat yakin akhirnya Don mengetahui kalau aku berusaha keras untuk mendekatkan diri dengan Alison. Don marah besar! Sampai-sampai dia ingin mendatangi dan menghajarku. Aku tentu tidak takut, tidak mungkin aku takut karena memang aku sendiri yang mencari masalah. Yang aku takutkan adalah apa yang akan Alison pikirkan jika dia melihatku dihajar oleh Don, What!? Maksudku apa yang akan Alison pikirkan jika memang aku menyukai dan berusaha merusak hubungan nya dengan Don? Dia pasti berfikir bahwa aku tidak ingin melihatnya bahagia. Sekali lagi, aku tidak yakin Don benar-benar ingin menghajarku tapi part of my memory tells me that hal ini memang terjadi. Ah entahlah, kenapa kalian masih membaca cerita rubbish ini?
Yang aku ingat adalah suara Don yang mengatakan bahwa aku harus menjauhi Alison jika tidak ingin ada masalah. Dan sedikit aku bisa mengingat ada suara Alison berusaha mengambil handphone nya. Ya, suatu hari aku menerima panggilan dari Alison dan ternyata yang berbicara adalah Don. Dengan suara datar aku hanya menjawab, Ya…Ya..Yaa.. Oke.. tapi ketika Alison kembali berbicara aku berusaha menjelaskan bahwa aku tidak bermaksud merusak hubungan mereka tapi Alison hanya berkata “Kalau mau chat seperlunya aja dwik, udah dulu ya”. BOOM! Galau tingkat dewa.


Keesokan harinya ketika kami berpapasan Alison terlihat berbeda, biasanya dia tersenyum kepadaku tapi sekarang tidak lagi. Yap, semua nya sudah berubah aku juga tidak lagi mencoba mendekatkan diri padanya. ‘Chat seperlunya saja’ aku bahkan tidak mengajaknya chat lagi. Aku hanya bisa mengecek social media nya, twitter, facebook….Haah, feeling nostalgic. Hingga akhirnya teman-teman SMP ku dari kelas sebelah, 10-5 mengedarkan gosip bahwa Kat, cewek cerewet yang hyperactive tapi looks good, menanyakan namaku. Hanya bertanya memang, tapi…


What the…. Look at the time me lad! 23.32 !!!


Mungkin aku akan melanjutkan nya besok, lusa, besok lusa, besok besok lusa lusa, atau kapan saja ketika i’m in the mood. Sedikit membingungkan tapi yang ingin aku sampaikan adalah apa yang aku pikirkan hari ini. Oh ya, mengenai Alison. Aku dan Alison sempat berpacaran di SMP, cinta monyet that’s what they say. Hubungan itu bubar begitu saja tanpa statement putus. Dan jujur saja aku sangat menyesal, salah satu alasan aku ingin masuk ke SMAN 2 Medan adalah Alison. Bahkan dia adalah alasan terkuat ku untuk bisa lulus di sekolah itu. What an interesting girl, she is.


Okay! Sudah cukup, jangan katakan ‘move on dwiki!’ karena aku emang udah move on. Watdehel, seharusnya postingan ini sudah berakhir dari tadi. Maaf, beginner’s error.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s